"Lama banget cantik keluarnya." katanya masih mengunyah gorengan.
"Ini udah paling cepet sih, Jo." kataku.
"Jo? Agak gimana gitu gak sih, Nda? Eh, tapi, gak apa deh, selagi kamu yang ngomong," katanya sambil senyum. "Yaudah yuk, langsung."
Dia memberikan jaketnya hari itu padaku, membiarkan dirinya sendiri memakai baju putih yang tipis itu. Sebenarnya sudah ku tolak, tapi dia memaksa. Mau apa lagi selain menerima?
Dan hari itu, dimotor klasiknya, kami bercerita banyak, tertawa bahagia, dan menjadi komentator untuk semua orang yang kita lalui. Hari itu aku rasa, aku sudah jatuh cinta padanya. Entah, aku seakan tak peduli tentang pertemuan menyebalkan kami ataupun pertemuan yang terlalu singkat. Untuk sekarang, siapa yang bisa menolak ketika jatuh cinta tanpa alasan?
[ ]
"Ini tempatnya?" kataku heran. Bagaimana aku tidak heran, ini rumah makan padang.
"Ya enggak dong, Cantik. Kamu liat kan ini warung makan padang? Masa kita ngasih penghargaan si Pak Kutem nasi padang? Kalo gitu mah suruh aja dia sendiri beli." katanya sambil melepas helm dan kacamata.
"Terus?" kataku bodoh.
"Ya kita makan lah. Kamu ini pusing banget kali ya di sekolah tadi? Aku khawatir jadinya." katanya yang lalu memegang kedua pundakku, mendorongnya halus untuk masuk ke dalam.
"Emang kita mau ngasih apa sih sama Pak Kutem-mu itu?" kataku setelah meminum es teh manis.
"Apa aja. Boneka yang gede mungkin atau bunga bucket gitu atau lagi sisir buat kumisnya yang membuat wanita jatuh cinta." katanya setelah melahap makanan yang ada di meja.
"Idih! Emang dia apa menurutmu? Kita beli baju aja yuk, Jo." kataku menyalurkan ide.
"Boleh, baju romantis bertiga gimana? Nanti baju aku tulisannya 'Aku', baju Pak Kutem gambar love, dan baju kamu tulisannya 'Kamu'. Nanti habis itu kita foto bertiga deh." katanya meriah.
"Aku cinta kamu?" kataku menyimpulkan.
"Iya aku tahu, aku juga cinta kamu." katanya yang......membalas dengan tatapan serius.
TUHAN! Mungkin setelah dia berucap seperti itu mukaku sudah seperti kepiting bakar. Malu. Senang. Mules. Hari itu aku benar-benar melihat tatapannya, tak ada lelukan matanya yang tak mirip denganku. Sama. Ah! Sial! Bagaimana bisa dia dengan matanya menatap begitu serius dan dalam?
[ ]
"Pak Kutem mana ya?" katanya. Oh ya, kami sudah berada di rumahku setelah berjam-jam mencari baju romantis ini. Sekarang pukul 8 malam.
"Mungkin di dalam, masuk yuk, Jo." kataku.
"Mbak Nada!" kata Pak Kutem memanggilku padahal kita sedang berpapasan di pintu. Haruskah sekencang itu, Pak?
"Ya ampun, jangan kenceng-kenceng dong, Pak." kataku yang melihat wajahnya panik.
"Ayah masuk rumah sakit, Mbak. Baru saja. Ayah serangan jantung, Mbak." katanya.
Fijo ketika mendengar itu langsung membawaku ke motornya. Setelah diberitahu rumah sakitnya, kami berangkat.
Hari itu aku bungkam. Menangis. Anak bodoh ini telah menelantarkan ayahnya seharian. Membiarkan tangan orang lain yang mengurusnya, yang bahkan tak ada hubungan darah dengannya. Hari itu aku hancur. Entah, seperti sedetik lalu aku bahagia karena Fijo. Tapi sekarang, aku benar-benar beda. Sakit rasanya. Aku yang dari tadi menyalahkan diriku sendiri dipelukan Fijo, aku yang menunggu ayah di luar ruangannya, aku yang tak mengizinkan untuk air mata ini berhenti, aku, aku si anak bodoh itu.
"Ini udah paling cepet sih, Jo." kataku.
"Jo? Agak gimana gitu gak sih, Nda? Eh, tapi, gak apa deh, selagi kamu yang ngomong," katanya sambil senyum. "Yaudah yuk, langsung."
Dia memberikan jaketnya hari itu padaku, membiarkan dirinya sendiri memakai baju putih yang tipis itu. Sebenarnya sudah ku tolak, tapi dia memaksa. Mau apa lagi selain menerima?
Dan hari itu, dimotor klasiknya, kami bercerita banyak, tertawa bahagia, dan menjadi komentator untuk semua orang yang kita lalui. Hari itu aku rasa, aku sudah jatuh cinta padanya. Entah, aku seakan tak peduli tentang pertemuan menyebalkan kami ataupun pertemuan yang terlalu singkat. Untuk sekarang, siapa yang bisa menolak ketika jatuh cinta tanpa alasan?
[ ]
"Ini tempatnya?" kataku heran. Bagaimana aku tidak heran, ini rumah makan padang.
"Ya enggak dong, Cantik. Kamu liat kan ini warung makan padang? Masa kita ngasih penghargaan si Pak Kutem nasi padang? Kalo gitu mah suruh aja dia sendiri beli." katanya sambil melepas helm dan kacamata.
"Terus?" kataku bodoh.
"Ya kita makan lah. Kamu ini pusing banget kali ya di sekolah tadi? Aku khawatir jadinya." katanya yang lalu memegang kedua pundakku, mendorongnya halus untuk masuk ke dalam.
"Emang kita mau ngasih apa sih sama Pak Kutem-mu itu?" kataku setelah meminum es teh manis.
"Apa aja. Boneka yang gede mungkin atau bunga bucket gitu atau lagi sisir buat kumisnya yang membuat wanita jatuh cinta." katanya setelah melahap makanan yang ada di meja.
"Idih! Emang dia apa menurutmu? Kita beli baju aja yuk, Jo." kataku menyalurkan ide.
"Boleh, baju romantis bertiga gimana? Nanti baju aku tulisannya 'Aku', baju Pak Kutem gambar love, dan baju kamu tulisannya 'Kamu'. Nanti habis itu kita foto bertiga deh." katanya meriah.
"Aku cinta kamu?" kataku menyimpulkan.
"Iya aku tahu, aku juga cinta kamu." katanya yang......membalas dengan tatapan serius.
TUHAN! Mungkin setelah dia berucap seperti itu mukaku sudah seperti kepiting bakar. Malu. Senang. Mules. Hari itu aku benar-benar melihat tatapannya, tak ada lelukan matanya yang tak mirip denganku. Sama. Ah! Sial! Bagaimana bisa dia dengan matanya menatap begitu serius dan dalam?
[ ]
"Pak Kutem mana ya?" katanya. Oh ya, kami sudah berada di rumahku setelah berjam-jam mencari baju romantis ini. Sekarang pukul 8 malam.
"Mungkin di dalam, masuk yuk, Jo." kataku.
"Mbak Nada!" kata Pak Kutem memanggilku padahal kita sedang berpapasan di pintu. Haruskah sekencang itu, Pak?
"Ya ampun, jangan kenceng-kenceng dong, Pak." kataku yang melihat wajahnya panik.
"Ayah masuk rumah sakit, Mbak. Baru saja. Ayah serangan jantung, Mbak." katanya.
Fijo ketika mendengar itu langsung membawaku ke motornya. Setelah diberitahu rumah sakitnya, kami berangkat.
Hari itu aku bungkam. Menangis. Anak bodoh ini telah menelantarkan ayahnya seharian. Membiarkan tangan orang lain yang mengurusnya, yang bahkan tak ada hubungan darah dengannya. Hari itu aku hancur. Entah, seperti sedetik lalu aku bahagia karena Fijo. Tapi sekarang, aku benar-benar beda. Sakit rasanya. Aku yang dari tadi menyalahkan diriku sendiri dipelukan Fijo, aku yang menunggu ayah di luar ruangannya, aku yang tak mengizinkan untuk air mata ini berhenti, aku, aku si anak bodoh itu.
Comments
Post a Comment