Kataku [4]

Aku duduk di mobil sekarang, menuju arah pulang. Dari semenjak ayah keluar dari ruangan, aku benar-benar tidak begitu mendengarkan apa yang ayah ucapkan, hanya kalimat 'iya' dan 'tidak' yang kulontarkan. Seperti sedang dalam permaianan di tv.

"Nda, dengerin ayah gak sih?" katanya yang tadi bercerita, entah apa.
"Ha? Hm-iya iya, Nda, dengerin kok, Yah." kataku berbohong.
"Itu makanannya kok gak di makan? Malah diliatin, emang dengan cara diliatin makanannya tiba-tiba bisa masuk ke mulut kamu?" katanya.
"Oh, enggak lah, Yah, mana bisa. Makanannya nanti dimakan di rumah aja." kataku. Sebenarnya, aku juga tak ada niatan memakan nasi goreng ini di rumah. Mataku terpacu oleh nomor telfon yang ditulis oleh lelaki gila tadi dibungkusan makananku. Niat benar dia ini dan seakan yakin kalau aku nanti akan menghubunginya.

[ ]


Ini pukul 23.09 WIB, tapi aku masih terjaga, seakan lupa kalau besok sekolah. Ah! Pikiranku ini kenapa pada lelaki tadi, kenapa aku ini malah membayangkan mukanya? Yang memiliki alis tebal hampir menyatu, rambut berantakan yang sangat cocok untuknya, kumis tipis yang membuatnya naik satu level, jaket abu-abu dengan perpaduan kaos hitam, dan juga jelana jeans. Nah, mengapa sekarang aku mendeskripsikannya? Belum saja aku gila karena ini.

[ ]

"Nda, kangen abis!" kata Tessa yang tiba-tiba memelukku tak lama aku turun dari mobil saat sampai di sekolah.
"Lho, kamu kapan pulang, Sa?" kataku yang entah, apakah ini pertanyaan konyol atau bukan.
"Kemarin siang, aku kan ngabarin kamu, Nda. Kamu gak baca pesan aku?" katanya mulai mengintrogasi.
"Ba-baca, baca kayaknya," kataku bodoh.
"Hei, kawan lama." tiba-tiba Lima menyambar
"Tumben kamu gak telat, Li." kata Tessa yang curiga
"Ya elah, curigaan banget si. Enggak, aku gak mau nyontek pr, lagi pula ini baru awal." katanya
"Nda, kok kamu diem sih? Ada masalah ya? Cerita dong, Nda." katanya melanjutkan introgasi.
"Eh, iya, tumben seorang Fusionada gak rame. Ada angin apa? Topan? Hehehe, lucu ya angin bisa jadi artis." katanya menghibur.
"Gak, gak apa. Ayo cepet, nanti kita gak boleh masuk kelas." kataku ditambah senyum tipis. Ya, beginilah aku, jarang menceritakan apa yang baru terjadi dihidupku, butuh kirakira seminggu, dua minggu, sebulan, atau dua bulan baru kuceritakan. Maaf, tapi aku hanya merasa, mereka hanya ingin tahu, tak ada maksud membantu. Bukan aku tak percaya padanya, mereka baik, mereka mengerti, tapi aku hanya butuh aku untuk menuntaskan semua masalah.

[ ]

"Hei, kok aku gak kamu telfon?" kata Fijo yang, YA AMPUN, bagaimana dia bisa ke sini? Bagaimana dia tahu sekolahku? Orang macam apa ini, dia menyamar jadi tukang service. Bagaimana bisa?
"Kamu lagi? Dari mana kamu tahu aku sekolah di sini?" kataku yang kaget setelah dari kantin menuju kelas. Kalau kau tanya ke mana Lima dan Tessa, mereka di perpustakaan, mencari buku untuk tugas.
"Gak penting aku tahu dari mana. Kita pergi yuk! Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." katanya sambil melihat keadaan.
"Gak ah! Aku aja gak kenal kamu siapa, wanita macam apa aku yang mau atas ajakkanmu." kataku menolak.
"Aku kan Fijo, idaman kamu, masa iya gak kenal. Udah ayo!" katanya tanpa basa-basi langsung memegang tanganku, mengajakku melarikan diri dari sekolah ini.

Comments

  1. Wkwkwkwkwkwk tau tau nih guaaa aaaaah lebaaay... melarikan diri

    ReplyDelete

Post a Comment