Seperti menelan omonganku sendiri. Baru saja kubilang wanita macam apa yang akan mengikuti ajakannya, ternyata, ya, wanita macam aku ini. Tiba-tiba saja aku mau diajak pergi olehnya dari sekolah dan yang terpenting, ini pertama kalinya aku cabut dari sekolah tanpa ayah dan tanpa sepengetahuan beliau. Ah, maafkan anakmu ini, Yah!
"Ini gedung favorite ku," katanya. Oiya, aku dan dia ada disalah satu gedung tak terpakai dan belum jadi di daerah Jakarta. Letaknya di tengah kota, kau bisa melihatnya jika kau berada di tol arah Ancol (jika ku tak salah ingat).
"Aku tuh mau tanya ya sama kamu. Kenapa sih kamu ngikutin aku? Terus tau aku sekolah di sana itu darimana? Kenapa kamu ajak aku ke sini? Emang kita kenal?" kataku mengacuhkan pernyataannya tadi.
"Kamu gak bawa mic sama kamera? Aku rasa kamu lagi wawancara aku buat jurnal sekolahmu." katanya sambil duduk di pinggir gedung paling atas.
"Aku serius! Jawab pertanyaan aku." kataku mengikuti ia duduk.
"Aku ngikutin kamu setelah dari rumah sakit. Karena kamu gak telpon aku, malemnya aku ke rumah kamu, tidur berdua sama satpam rumahmu. Paginya aku ikutin kamu ke sekolah. Hah, malam itu aku dan satpammu sangat romantis sekali, aku merindukannya sekarang" katanya sambil senyum.
Gila! Dia tidur di pos rumahku? Dengan satpam? Bagaimana bisa lelaki ini berbuat seperti itu? Bagaimana bisa dia mengambil hati satpam berkumis tebal itu?
"Terus kenapa kamu mengikuti aku?" kataku yang pura-pura biasa saja dengan ceritanya tadi
"Kan sudah kubilang aku ini idamanmu, mana bisa aku melepas seorang Fusionada yang mengidam-idamkanku,"katanya sambil melepas jaket hitamnya.
"Kamu tahu darimana namaku?!" kataku heran
"Semua orang akan tahu namamu dari nametag itu, cantik." katanya sambil senyum lagi
Sebenarnya setelah dia bilang begitu aku jadi merasa malu sendiri. Bukan, bukan karena dia bilang aku cantik, tapi karena nametag ini yang membuatku bodoh menanyakan dari mana dia tahu namaku.
[ ]
Sekarang pukul 7 malam dan kami masih di sini, sebelumnya aku sudah bilang ayah karena pulang terlambat nanti dan kebetulan ayah juga lembur, jadi, ya, kami masing-masing dulu saat ini. Aneh rasanya karena biasanya malam-malam aku pasti dengan ayah. Ya, untuk hari ini saja.
"Dari tadi kamu cerita, aku rasa hidup kamu terlalu bebas. Aku gak pernah denger diceritamu tentang ayah atau ibumu." kataku yang dari tadi mengamati semua ceritanya
"Ibuku ada di rumah, ayahku juga ada di rumah. Mereka mungkin sekarang sama-sama di rumah. Dulu mereka bercerai saat umurku 2 tahunan dan kembali bersama lagi 3tahun kemudian. Aneh memang tapi begitulah mereka. Mereka memberikan kebebasan untukku pergi ke mana saja, asal aku bisa bertanggung jawab. Lagi pula aku ini anak laki-laki, semakin banyak pengalaman semakin layak aku jadi lelaki." katanya sambil memukul dadanya tanda bangga dan senyum juga.
"Kayaknya kita cuma beda 2tahunan ya," kataku yang tertawa melihat ulahnya tadi.
"Maksudmu aku ini terlalu tua? Apalah daya umur kalau kamu ini mengidam-idamkanku," katanya yang membawa 'idaman' lagi
"Kenapa sih kamu tuh pede banget aku ini mengidam-idamkan kamu, kita aja baru kenal, mana bisa aku begitu." kataku yang, ya, kebawa lagi sewotnya.
"Aku berani jamin habis pulang dari ini, kamu gak akan bisa tidur sampai jam 11 malam lagi," katanya sambil melihat gedung-gedung didepan matanya.
Alamak! Bagaimana dia tahu lagi semalam aku tidur jam 11-an dan memikirkannya. Apa dia punya indra keenam? Apa dia punya ilmu bisa membaca pikiran? Apa dia dukun terkenal disekitar rumahnya? Duh, siapa dia?
"Ini gedung favorite ku," katanya. Oiya, aku dan dia ada disalah satu gedung tak terpakai dan belum jadi di daerah Jakarta. Letaknya di tengah kota, kau bisa melihatnya jika kau berada di tol arah Ancol (jika ku tak salah ingat).
"Aku tuh mau tanya ya sama kamu. Kenapa sih kamu ngikutin aku? Terus tau aku sekolah di sana itu darimana? Kenapa kamu ajak aku ke sini? Emang kita kenal?" kataku mengacuhkan pernyataannya tadi.
"Kamu gak bawa mic sama kamera? Aku rasa kamu lagi wawancara aku buat jurnal sekolahmu." katanya sambil duduk di pinggir gedung paling atas.
"Aku serius! Jawab pertanyaan aku." kataku mengikuti ia duduk.
"Aku ngikutin kamu setelah dari rumah sakit. Karena kamu gak telpon aku, malemnya aku ke rumah kamu, tidur berdua sama satpam rumahmu. Paginya aku ikutin kamu ke sekolah. Hah, malam itu aku dan satpammu sangat romantis sekali, aku merindukannya sekarang" katanya sambil senyum.
Gila! Dia tidur di pos rumahku? Dengan satpam? Bagaimana bisa lelaki ini berbuat seperti itu? Bagaimana bisa dia mengambil hati satpam berkumis tebal itu?
"Terus kenapa kamu mengikuti aku?" kataku yang pura-pura biasa saja dengan ceritanya tadi
"Kan sudah kubilang aku ini idamanmu, mana bisa aku melepas seorang Fusionada yang mengidam-idamkanku,"katanya sambil melepas jaket hitamnya.
"Kamu tahu darimana namaku?!" kataku heran
"Semua orang akan tahu namamu dari nametag itu, cantik." katanya sambil senyum lagi
Sebenarnya setelah dia bilang begitu aku jadi merasa malu sendiri. Bukan, bukan karena dia bilang aku cantik, tapi karena nametag ini yang membuatku bodoh menanyakan dari mana dia tahu namaku.
[ ]
Sekarang pukul 7 malam dan kami masih di sini, sebelumnya aku sudah bilang ayah karena pulang terlambat nanti dan kebetulan ayah juga lembur, jadi, ya, kami masing-masing dulu saat ini. Aneh rasanya karena biasanya malam-malam aku pasti dengan ayah. Ya, untuk hari ini saja.
"Dari tadi kamu cerita, aku rasa hidup kamu terlalu bebas. Aku gak pernah denger diceritamu tentang ayah atau ibumu." kataku yang dari tadi mengamati semua ceritanya
"Ibuku ada di rumah, ayahku juga ada di rumah. Mereka mungkin sekarang sama-sama di rumah. Dulu mereka bercerai saat umurku 2 tahunan dan kembali bersama lagi 3tahun kemudian. Aneh memang tapi begitulah mereka. Mereka memberikan kebebasan untukku pergi ke mana saja, asal aku bisa bertanggung jawab. Lagi pula aku ini anak laki-laki, semakin banyak pengalaman semakin layak aku jadi lelaki." katanya sambil memukul dadanya tanda bangga dan senyum juga.
"Kayaknya kita cuma beda 2tahunan ya," kataku yang tertawa melihat ulahnya tadi.
"Maksudmu aku ini terlalu tua? Apalah daya umur kalau kamu ini mengidam-idamkanku," katanya yang membawa 'idaman' lagi
"Kenapa sih kamu tuh pede banget aku ini mengidam-idamkan kamu, kita aja baru kenal, mana bisa aku begitu." kataku yang, ya, kebawa lagi sewotnya.
"Aku berani jamin habis pulang dari ini, kamu gak akan bisa tidur sampai jam 11 malam lagi," katanya sambil melihat gedung-gedung didepan matanya.
Alamak! Bagaimana dia tahu lagi semalam aku tidur jam 11-an dan memikirkannya. Apa dia punya indra keenam? Apa dia punya ilmu bisa membaca pikiran? Apa dia dukun terkenal disekitar rumahnya? Duh, siapa dia?
Dia itu manusia kocak
ReplyDelete