Kami, aku dan dia, sudah di depan gerbang rumahku. Sekarang pukul 20.34 WIB, ayah juga belum pulang. Aku diantar pulang olehnya dengan motor hitam klasik 1954 Triumph T100A, dia bilang ini motor kesayangannya. Sebenarnya, dia punya motor keluaran baru-baru ini, tapi dia bilang motor ini punya banyak cerita, halah, paling juga dengan wanita lain yang ia ajak kenalan dengan sengaja seperti aku waktu itu.
"Mau aku anterin masuk atau sampai sini aja?" katanya menawarkan.
"Sampai sini aja, kamu harus pulang." kataku menyuruh.
"Aku mau ketemu Pak Kutem dulu boleh?"
"Pak Kutem, siapa dia?" tanya ku heran.
"Pak Kumis Item, satpammu." katanya sambil senyum.
"Gak, gak boleh. Dia sibuk, jadi kamu gak usah ganggu dia." kataku sambil menahan ketawa.
"Yah, padahal aku kangen banget tidur bareng dia. Kamu harus bersyukur punya satpam yang baik seperti dia, kamu harus beri penghargaan sama dia." katanya menatapku serius.
"Penghargaan apa?"
"Nah, besok kita cari. Aku jemput kamu sehabis pulang sekolah." katanya.
"Dih, aku aja belum tentu mau kamu jemput." kataku.
"Kamu nih moody ya, bentar ramah, bentar judes lagi, bentar bentar bentar, sampai gak jadi-jadi. Pokoknya sih aku jemput kamu besok." katanya sambil menyalakan mesin motor.
"Eh, tunggu dulu. Mm, itu a-anu, m-makasih buat hari ini," kataku. Perlu kalian ingat, ucapan ini semata-mata aku berterima kasih atas tumpangan dan makanan yang dia beri. Tak lebih.
[ ]
Sial! Ucapan dia benar, sekarang pukul 11 malam dan aku masih terjaga memikirkan hari ini. Apalagi memikirkan besok aku akan bersama-sama dengannya lagi. Tunggu dulu, suara itu seperti suara ayah, ayah sudah pulang?
"Ayah, sudah pulang?" kataku yang keluar dari kamar dan langsung menghampiri beliau di ruang tamu.
"Ya, ayah di sini, Nda. Udah pulang dong berarti," katanya sambil melepas sepatu.
"Yah, hari ini, Nda bolos." kataku yang setengah mati mengumpulkan nyali untuk mengatakannya.
"Ya ampun. Bagus dong, capek ya di sekolah? Gak apa-apa sih ayah mah," katanya santai
"Tapi, Nda bolos karena ada laki-laki yang ngajakin Nda pergi." kataku yang kali ini tak deg-degan lagi.
"Siapa?" katanya yang langsung menoleh ke arah mukaku tiba-tiba.
"Fijo, Yah." kataku yang jadi deg-degan lagi.
"Kemana? Ngapain aja?" jawabnya sambil ketus.
"Ke gedung gitu, cuma ngobrol aja, Yah. Tapi, Fijo anaknya baik, Yah. Coba deh ayah bayangin, mata aku sama matanya dia sama, aku perhatiin banget waktu ngobrol sama dia." kataku cerita antusias.
"Kebetulan," katanya yang... ya ampun! Ayahku cemburu?
"Eh, ayahku cemburu? Hahahaha, aku bakal tetep milik ayah sampai kapanpun, ayah gak perlu khawatir. Gak perlu." kataku sambil memeluknya. Dia terseyum, aku tahu saat kaca mejaku memantulkan wajahnya.
[ ]
"Nda, pulang sekolah ke toko buku yuk. Udah lama parah gak nyari novel baru." kata Tessa. Kami bertiga, aku, Tessa, dan Lima sedang berada di kantin.
"Iya, tuh, aku juga mau cari buku yang best seller," tambah Lima. (Jangan kau hitung, tak ada hasilnya)
"Duh, gak bisa deh. Hari ini aku udah ada janji sama orang," kataku yang gak enak nolak tawaran mereka.
"Kemana? Sama siapa? Tumben banget ada yang ngajak jalan." kata Tessa.
"Ada deh, orang," kataku meyembunyikan.
"Mainnya rahasia-rahasiaan nih sekarang," kata Lima.
"Gak, gak dirahasiain kok. Kalian kan gak kenal, nanti jadi canggung gimana gitu," kataku mencari alasan. Entah, menurutmu ini logis kah?
[ ]
Bel pulang berbunyi, aku langsung berkemas, pamit pada dua orang manusia paling mengerti, dan langsung ke gerbang. Itu dia! Fijo, memakai jaket hitam, topi hitam, baju putih, memakan gorengan di atas motornya, dan kacamata hitam yang...ya Tuhan! Dia se-sempur....
"Nda, di sini," katanya sambil melambaikan tangan yang ada gorengannya.
"Iya, tunggu." kataku sambil senyum dan menghampiriya.
"Mau aku anterin masuk atau sampai sini aja?" katanya menawarkan.
"Sampai sini aja, kamu harus pulang." kataku menyuruh.
"Aku mau ketemu Pak Kutem dulu boleh?"
"Pak Kutem, siapa dia?" tanya ku heran.
"Pak Kumis Item, satpammu." katanya sambil senyum.
"Gak, gak boleh. Dia sibuk, jadi kamu gak usah ganggu dia." kataku sambil menahan ketawa.
"Yah, padahal aku kangen banget tidur bareng dia. Kamu harus bersyukur punya satpam yang baik seperti dia, kamu harus beri penghargaan sama dia." katanya menatapku serius.
"Penghargaan apa?"
"Nah, besok kita cari. Aku jemput kamu sehabis pulang sekolah." katanya.
"Dih, aku aja belum tentu mau kamu jemput." kataku.
"Kamu nih moody ya, bentar ramah, bentar judes lagi, bentar bentar bentar, sampai gak jadi-jadi. Pokoknya sih aku jemput kamu besok." katanya sambil menyalakan mesin motor.
"Eh, tunggu dulu. Mm, itu a-anu, m-makasih buat hari ini," kataku. Perlu kalian ingat, ucapan ini semata-mata aku berterima kasih atas tumpangan dan makanan yang dia beri. Tak lebih.
[ ]
Sial! Ucapan dia benar, sekarang pukul 11 malam dan aku masih terjaga memikirkan hari ini. Apalagi memikirkan besok aku akan bersama-sama dengannya lagi. Tunggu dulu, suara itu seperti suara ayah, ayah sudah pulang?
"Ayah, sudah pulang?" kataku yang keluar dari kamar dan langsung menghampiri beliau di ruang tamu.
"Ya, ayah di sini, Nda. Udah pulang dong berarti," katanya sambil melepas sepatu.
"Yah, hari ini, Nda bolos." kataku yang setengah mati mengumpulkan nyali untuk mengatakannya.
"Ya ampun. Bagus dong, capek ya di sekolah? Gak apa-apa sih ayah mah," katanya santai
"Tapi, Nda bolos karena ada laki-laki yang ngajakin Nda pergi." kataku yang kali ini tak deg-degan lagi.
"Siapa?" katanya yang langsung menoleh ke arah mukaku tiba-tiba.
"Fijo, Yah." kataku yang jadi deg-degan lagi.
"Kemana? Ngapain aja?" jawabnya sambil ketus.
"Ke gedung gitu, cuma ngobrol aja, Yah. Tapi, Fijo anaknya baik, Yah. Coba deh ayah bayangin, mata aku sama matanya dia sama, aku perhatiin banget waktu ngobrol sama dia." kataku cerita antusias.
"Kebetulan," katanya yang... ya ampun! Ayahku cemburu?
"Eh, ayahku cemburu? Hahahaha, aku bakal tetep milik ayah sampai kapanpun, ayah gak perlu khawatir. Gak perlu." kataku sambil memeluknya. Dia terseyum, aku tahu saat kaca mejaku memantulkan wajahnya.
[ ]
"Nda, pulang sekolah ke toko buku yuk. Udah lama parah gak nyari novel baru." kata Tessa. Kami bertiga, aku, Tessa, dan Lima sedang berada di kantin.
"Iya, tuh, aku juga mau cari buku yang best seller," tambah Lima. (Jangan kau hitung, tak ada hasilnya)
"Duh, gak bisa deh. Hari ini aku udah ada janji sama orang," kataku yang gak enak nolak tawaran mereka.
"Kemana? Sama siapa? Tumben banget ada yang ngajak jalan." kata Tessa.
"Ada deh, orang," kataku meyembunyikan.
"Mainnya rahasia-rahasiaan nih sekarang," kata Lima.
"Gak, gak dirahasiain kok. Kalian kan gak kenal, nanti jadi canggung gimana gitu," kataku mencari alasan. Entah, menurutmu ini logis kah?
[ ]
Bel pulang berbunyi, aku langsung berkemas, pamit pada dua orang manusia paling mengerti, dan langsung ke gerbang. Itu dia! Fijo, memakai jaket hitam, topi hitam, baju putih, memakan gorengan di atas motornya, dan kacamata hitam yang...ya Tuhan! Dia se-sempur....
"Nda, di sini," katanya sambil melambaikan tangan yang ada gorengannya.
"Iya, tunggu." kataku sambil senyum dan menghampiriya.
Comments
Post a Comment