Kataku [8]

Sudah tiga hari aku di rumah sakit menemani ayah yang tak kunjung sadar. Sudah tiga hari Fijo bolak-balik --rumah sakit dan rumahnya. Sudah tiga hari Lima dan Tessa menemaniku saat sepulang sekolah mereka. Sudah tiga hari mataku tak beristirahat karena selalu mengeluarkan tangisannya. Sudah tiga hari pula aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan, semua percuma. Aku ini memang anak tak tahu budi, banyak yang ayah korbankan untukku tapi, saat ia jatuh aku tak ada. Bodoh bukan?

"Nda, makan dulu yuk! Aku bawa makanan buatan aku sendiri lho!" kata Fijo
"Taro aja di atas meja." kataku yang lagi memandang ayah dan menggenggam tangannya.
"Nanti gak kamu makan lagi. Coba bayangin deh, Nda, kalau ayahmu sadar dan sehat, eh, tiba-tiba kamu yang sakit. Masa sedihnya berkelanjutan, panjang nanti berepisode kayak sinetron." kata Fijo berusaha menghibur.
"Aku lagi gak mood bercanda." kataku lesu.
"Sebenernya yang harus kamu khawatirin itu diri kamu sendiri. Ayahmu dalam pengawasan dokter yang sudah pasti terkontrol, sedangkan kamu? Kamu yang seharusnya kontrol diri kamu sendiri, aku gak bisa, karena semua balik lagi ke kemauan kamu."katanya dengan nada meninggi.
"Apa sih maksud kamu? Ayahku yang sepatutnya aku khawatirin bukan aku! Aku juga gak minta kamu terus kontrol, aku gak minta kamu terus harus ke sini! Aku bisa sendiri rawat diriku bahkan ayahku tanpa kamu harus ada di sini!" kataku sambil menangis.
"Kamu atau bahkan ayahmu memang gak minta, tapi aku tahu kamu butuh seseorang, entah itu aku atau bukan tapi, kalau kamu bisa sendiri gak apa, aku pergi." katanya yang langsung pergi meninggalkan makanan yang ia bawa tadi.

Mungkin hari itu aku bukanlah aku. Aku seperti menghancurkan hidupku sendiri, membuat orang lain yang berbaik hati pergi, dan menambah beban tersendiri. Aku sadar dan tak tahu apa yang harus aku lakukan.

[ ]

"Nda," kata ayah mencoba membangunkanku yang hari itu pukul satu malam.
"Mmm-mm, aa--ayah? Ayah sudah sadar?" kataku yang senang sekaligus harus bertindak cepat menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Ayah seneng bisa lihat putri ayah sekarang." kata ayah sambil mengelus rambutku.
"Maafin Nada ya, Yah. Seharusnya Nada ada di sana waktu ayah serangan jantung." kataku sambil menangis.
"Bukan salah Nada. Nada putri ayah ini sudah melakukan tugasnya sebagai anak dengan baik. Ayah bener-bener bangga sama Nada. Ayah pesen kamu tetep jadi anak yang baik, anak yang kuat, dan anak yang bisa jadi panutan untuk orang banyak." kata ayah yang mengeluarkan air matanya.
"Nada pasti jadi apa yang ayah mau." kataku.
"Ayah sayang sekali sama Nada." katanya yang kemudian langsung mencium keningku. "Ayah sangat sayang dengan kamu putri ayah paling cantik satu-satunya di jagat raya, Fusionada."

Sesaat setelah itu dokter masuk, memeriksa dengan cepat, dan menyuruhku keluar. Entah untuk apa tetapi, hari itu aku menangis dan tiba-tiba saja Fijo datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung memelukku.

[ ]

Hari itu, 15 Agustus 2009, pukul 2:08 malam, di salah satu rumah sakit swasta. Ayahku, Munawar Barack, menghembuskan nafas terakhirnya.

Comments