Kataku [9]

Proses pemakaman kami laksanakan, meskipun sebenarnya yang mengurus total pemakaman ayah bukan aku. Aku daritadi hanya duduk di samping jasad beliau, memandanginya, dan berdoa banyak untuknya. Fijo yang justru mengurus segala kebutuhan pemakaman. Dia hanya datang padaku untuk melaporkan akan dikubur di mana nanti, setuju atau tidak dengan barang yang akan dibeli, dan menyuruhku istirahat sebentar.

"Ayah-ibuku akan ke sini nanti," kata Fijo disela-sela aku istirahat.
"Gak ngerepotin?"
"Mereka justru seneng dong, bakal ketemu sama calon keluarga barunya," kata Fijo menghibur.
"Aku lagi gak mood bercanda," kataku.
"Semua terasa cepet ya, Nda." katanya bercerita.
"Cepet kenapa?" kataku setelah meminum air putih.
"Baru beberapa hari yang lalu aku deketin kamu di Rumah Sakit. Beberapa hari yang lalu kamu cuek banget sama aku, beberapa hari yang lalu kita beliin baju Pak Kutem yang bahkan dia pake sekarang," sambil melirik Pak Kutem yang memakai baju 'I LOVE YOU'
"Beberapa hari yang lalu, aku masih liat senyum manis kamu. Beberapa hari yang lalu kita berantem. Cuma beberapa hari aja, Nda, tapi serasa satu tahun karna udah banyak banget ngelewatin semuanya yang sedih, seneng, marahan, bercanda." kata Fijo.
"Makasih ya, Jo, udah nemenin dan ngurusin semuanya. Aku hutang banyak banget sama kamu." kataku nyeleweng.
"Kamu gak pernah hutang denganku, Cantik." katanya sembari senyum.

Aku berdiri untuk bergegas menemui jasad ayahku sebelum dikubur beberapa jam lagi.

"Oh iya, kamu lupa seseuatu tentang beberapa hari yang lalunya kita." kataku memulai.
"Kenapa tuh?" katanya heran.
"Beberapa hari yang lalu, aku..." kataku mulas.
"Hm?" katanya sambil menaikan alisnya.
"A-aku ja-jat-jatuh cinta sama kamu." kataku cepat dan langsung hilang dari hadapannya.


[ ]

Ini saat terakhir aku melihat jasadnya. Ayahku ditimbun oleh tanah. Sudah tak terlihat lagi. Aku hanya bisa menangis ditemani tanteku dan dua sahabatku. Fijo? Dia di sisi kanan makam ayahku, setelah tadi ia membantu memasukan jasad ayahku keliang lahat.

Kami pulang. Fijo langsung bergegas membersihkan diri. Sedangkan aku? Aku langsung bergegas bangkit dari diriku sendiri. Aku memang sedih, tapi pesan terakhir ayah, aku harus kuat. Aku juga harus mengurus perusahaan ayah yang dalam wasiatnya itu tertulis untukku. Dalam wasiat itu juga tertulis bahwa aku sudah didaftarkan disalah satu univeristas di UK dan akan mengikuti tesnya di Jakarta beberapa hari setelah ujian kelulusanku (itu berarti tahun depan). Ayah memintaku sungguh-sungguh untuk bisa masuk universitas itu dan mengambil jurusan ekonomi. Setelah itu, aku yang akan menggantikan posisi ayah.

"Nda, ayah-ibuku gak jadi dateng, ada urusan mendadak katanya, kamu gak marah kan ya?" katanya yang masih berselimut handuk dipundaknya.
"Gak apa, lain kali kita ketemu."kataku sambil senyum.
"Kita udah jadian ya kan, Nda?" katanya enteng.
"Gimana ceritanya kita bisa jadian?" kataku tercengang.
"Lah, tadi kamu bilang, kamu jatuh cinta sama aku."katanya menatap.
"Salah ngomong."kataku bingung.
"Halah, jangan alasan kamu. Udah, anggep aja kita udah jadian ya, Nda." katanya
"Yaudah," kataku yang.............hehehehe...............seneng.

Itung-itung, Fijo bisa gantiin posisi ayah, walau sebenernya ayah gak pernah terganti.

Comments