Kataku [10] END

Sudah hampir satu tahun aku menjalin hubungan dengan Fijo dan ini juga bertanda bahwa kita harus menjalankan hubungan jarak jauh, seperti yang ayah tulis disurat wasiatnya untukku merasakan pendidikan di Negeri Ratu Elizabeth. Ya, aku yang akan meneruskan perusahaan ayah nantinya.

"Gak ada yang ketinggalan 'kan, Nda?" Fijo menanyakan.
"Kayaknya sih gak ada." kataku membalas.
"Mobilnya udah aku panasin, berangkat yuk!"
"Yuk!" kataku mengiyakan.
"Oh ya, nanti ayah-ibuku juga ikut nganter kamu di bandara."
"Serius? Ya ampun, ngerepotin banget."
"Gak apa, belum pernah dia ketemu calonnya." katanya sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan menuju bandara, kita bercanda dan tertawa. Sedih rasanya harus jauh dari Fijo, keluarga, dan teman-temanku yang kemarin sudah mengadakan Farewell Party terlebih dahulu. Tapi, ini keinginan ayah, orang yang kusayang seumur hidupku.

[ ]

"Berapa jam lagi pesawatnya, Nda?" Kata Fijo seketika kita sampai di bandara.
"Satu setengah jam lagi sih, Jo."
"Bentar, kayak aku kenal tuh orang yang lagi jalan." katanya sambil menyipitkan matanya.
"Mana sih?" kataku mencari.
"Itu dia! Ayah dan ibuku." katanya tersenyum.
......
Tapi
saat itu
aku terdiam, tidak tersenyum, tidak merasa senang.
Saat ayah meninggal, ku rapihkan barang-barang beliau, ada satu foto ketika ayah menikah dengan ibuku.

dan kau tahu? Wanita yang berjalan ke arah kami adalah mantan istri ayah yang berarti, ibuku.

Hidupku serasa berhenti, aku menjalin hubungan dengan kakak tiriku, gila! Sudah secinta ini aku padanya, tiba-tiba fakta mengatakan kita satu rahim. Pantas saja, mata itu mirip denganku.
   Hari itu, entah bagaimana ceritanya, wanita itu mengenaliku.

"Fu-Fusi-Fusionada?" wanita itu membuka mulutnya, sambil menyentuh pipiku dengan mata berbinar.
"Wah! Ibu hebat banget bisa tahu namanya." kata Fijo polos.
"Dia ibuku, Jo." kataku yang mengucapkannya seiring dengan tangisan.
"Ha? Iya, ibu mertuamu." katanya menghiraukan wajah seriusku.
"Dia ibu kandungku..."

Wanita itu memegang tanganku, tapi ku lepaskan dengan lembut. Sebagai penghormatanku karna telah melahirkanku. Mengapa ku lepas? Aku terlanjur sakit.

"Kamu anak ibu, Fijo dan Fusionada, ibu menyarankan nama itu pada ayah kalian. Nama itu dari bahasa Spanyol, Fijo berarti tetap dan Fusionada berarti bersama." katanya sembari menatap mataku dalam-dalam.
   Fakta kedua yang kuketahui adalah nama ini, gila bagian dua! Dia yang merencanakan nama ini? Apakah berarti dia juga merencanakan perceraiannya dengan ayah? Wanita rupa apa ini?

[ ]

Masih dengan air mataku, sekarang aku sedang duduk di ruang tunggu setelah tadi check-in. Akhir yang tragis bagiku dan Fijo yang ternyata kakak tiriku. Sakit. Seandainya ayah...ah sudahlah ayah sudah tenang. Sebenarnya, aku belum sempat mengatakan putus, tapi mungkin, wanita itu akan memberitahu sebenarnya dan Fijo akan dengan rela mengakhiri hubungan tidak pantas ini.

[ ]

Aku pergi, bukan inginku, tapi nyatanya begitu.
--Kataku.

Comments