“Sayang,
lihat bayi kita. Dia akan gagah sepertiku nantinya.” Si ayah dengan senangnya
menemui si ibu sambil meminang anak lelaki mereka.
“Siapa
bilang kau gagah?” Si ibu menggoda dengan usil si ayah.
“Hahaha,
lihat ibumu, Nak. Padahal dulu dia yang terpincut denganku saat aku masih
bagian dari tentara negara.” Si ayah membalas.
“Apa
kau sudah menamai bayi kita?” Tanya si ibu.
“Iro,
aku menamainya Iro.” Jawab si ayah yang disambut senyuman kecil si ibu tanda
setuju dengan nama itu.
Selanjutnya, Iro dibesarkan tanpa satu
hari pun lewat dari kasih sayang. Ayah dan ibu mencintainya tanpa pamrih. Iro-pun
tumbuh menjadi anak kecil yang peduli terhadap lingkungannya, menjadi sosok
yang penyayang diumur yang masih 5 tahun, dan menjadi anak kecil kebanggaan
ayah, ibu, dan lingkungannya. Iro benar-benar anak kecil idaman para orang tua
lainnya pada saat itu.
Pagi yang cerah untuk keluarga mereka
hari ini datang kembali. Ayah tidak bersiap kerja sebab hari ini adalah hari
libur. Sedangkan Ibu...hmm, kemana dia? Biasanya dia sedang memasak makanan di
dapur. Kemana ibu?
Mencari...
Mencari..
Mencari..
Nah!
Itu ibu
“Kau
habis menelpon siapa, Bu?” Tanya Iro kecil.
“Ah,
bukan apa-apa, Sayang. Ayo masuk ke dalam, hujan semalam belum berakhir.” Ibu
menyuruh Iro masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, ibu seperti tidak biasanya. Apa
ibu menyimpan kesedihan atau beban? Kenapa ibu?
Tunggu, sepertinya itu bukan hanya
ibu, tapi juga ayah. Mereka tampak menyembunyikan sesuatu dari Iro kecil yang
sedang bermain. Mengapa mereka menyembunyikan hal itu? Dan apa yang mereka
sembunyikan? Apa?
“Permisi.”
Suara lelaki dengan lantangnya terdengar sambil mengetuk pintu. Tunggu,
ternyata ibu menangis.
“Sayang,
sampai kapan-pun aku tidak pernah rela dengan keputusanmu.” Ayah dengan
cemasnya berbicara pada ibu.
“Aku
tidak apa, kau harus terus bersama Iro.” Isak ibu menjawab pernyataan ayah.
“Kita
harus terus bertiga, tidak boleh ada yang pergi kecuali dengan ajal.” Ucap ayah
sambil memegang kedua pipi ibu yang menangis yang juga dilihat oleh si kecil, Iro.
DAARR!!
Pintu
rumah dibobol dengan paksa. Sontak, ayah langsung memunggungi ibu untuk
melindunginya. Iro kecil berada di belakang kaki kiri ibu dekat dinding, dia
ketakutan.
“Ckckck,
berkali-kali aku mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membuka.” Ucap lelaki
besar yang dengan tidak sopannya menghancurkan pintu rumah.
“Aku
tidak akan membiarkan kalian merebut apa yang menjadi milikku.” Kata ayah
dengan suara agak tinggi.
Tunggu,
tunggu.
Siapa
itu dibalik dinding? Mengapa dia menyentuh tangan Iro? Hei! Dia menutup mulut Iro.
Apa ini kasus penculikkan? Mengapa ibu membiarkan Iro diambil orang itu? Tapi,
mengapa pula wanita yang menculiknya? Apa wanita ahli dalam bidang ini?
Tak
lama, suara tembakan terdengar dikuping Iro yang digendong melawan hujan oleh
wanita pencuri tersebut. Sayang, seribu sayang, ayah Iro gugur hari itu.
“Kau
aman di sini.” Ucap wanita itu setelah membuka maskernya. Dia sepertinya
seumuran dengan ibu.
Iro
diam. Dia takut dan bingung. Siapa wanita ini?
“Kau
tak perlu takut, aku teman ibumu.” Ucapnya lagi sambil tersenyum. “Ini rumahku
yang akan menjadi rumahmu juga.”
“Aku
mau pulang. Ibu dan ayah pasti sedang sedih.” Kata Iro yang tidak setuju untuk
menjadikan ini rumahnya.
“Kau
akan pulang setelah kau tumbuh dengan baik di sini.” Jawab wanita tersebut. “Hari
ini, aku sudah mempersiapkan bahan untuk ku masak nanti. Kau mau ku buatkan
apa, Iro?”
“Aku
mau ayam goreng di pertigaan jalan sana.” Jawab Iro dengan polosnya.
“Ah,
kalau begitu permintaanmu baru besok akan aku belikan.”
“Kenapa?”
“Hari
ini, banyak anak sekolah yang lebih brutal dari orang dewasa. Mereka sedang
ditertibkan setelah mereka pulang sekolah nanti.”
Iro
mengangguk polos.
Ah,
ya, aku baru tahu bahwa hari itu bukan hari libur.
cerita ini ada di wattpad dan blogger

Comments
Post a Comment